Jumat, Oktober 22, 2010

HAL BERDOA part 8

Written by: liesye herlyna   
  
            Tak bosan-bosannya saya mengupas perihal berdoa, karena ternyata masih banyak anak TUHAN yang tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa termasuk saya dan bagaimana caranya agar doa-doa yang dinaikkan tidak membentur dinding-dinding kamar melainkan naik ke tahta ALLAH. Saya sendiri bukan orang yang ahli dalam hal ini, namun saya ingin membagikan apa yang telah saya dapatkan kepada saudara dan kiranya pengalaman ini dapat memperkaya saudara di dalam hal berdoa. 

            TUHAN mengajarkan saya bahwa untuk mendapatkan sebuah jawaban doa, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Memang ada beberapa pokok doa yang langsung di jawab oleh TUHAN (saya menyebutnya sebagai doa untuk keadaan darurat), dan itu pun tergantung TUHAN, bukan atas keinginan kita sendiri. INGAT YA! Bukan atas keinginan kita sendiri, kita tidak punya hak untuk memaksa TUHAN melakukan apa yang kita inginkan. Namun biasanya jawaban doa atas sebuah masalah, butuh waktu, entah 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 5 tahun, bahkan mungkin baru dijawab pada generasi selanjutnya. Dan biasanya doa-doa yang seperti ini akan menaikkan level rohani bagi si pendoanya.  Jadi saudaraku, memang tidak ada doa yang instan seperti kopi mix, untuk jawaban doa butuhkan waktu dan pengujian iman. 

            Tahukah saudara, ketika saudara berdoa, saudara sedang menghadap siapa? Saudara sedang menghadap RAJA, RAJA segala raja. ALLAH segala allah. Sebagaimana layaknya menghadap presiden, kita tentu harus memperhatikan tata karma dan sopan santun. Kita tidak mungkin datang dengan gaya slengehan, celana pendek, sandal jepit, rambut berantakan, dan berbau pula. Demikian pula ketika kita menghadap ALLAH, RAJA segala raja, kita tentu harus memperhatikan sopan santun atau yang kita sebut protokol doa. 

            Bila menghadap presiden saja, kita sangat memperhatikan etika kesopanan namun mengapa ketika kita menghadap ALLAH, kita bersikap biasa-biasa saja dan cenderung meremehkan. Kita menganggap ALLAH sebagai satpam, yang menjaga harta benda kita. Kita menganggap ALLAH sebagai mak comblang, agar menjodohkan kita dengan orang yang kita sukai. Kita menganggap ALLAH sebagai pribadi yang murahan sehingga kita bisa memperlakukan-NYA dengan seenaknya. Saat sedang senang hati, datang pada TUHAN dan mengucap syukur, ketika tidak punya uang bersikap seperti pengemis yang meminta uang kepada orang kaya, ketika sedang dirundung masalah bukannya tetap setia malah berbalik menyalahkan ALLAH atas apa yang terjadi.      

            Saudaraku, selama kita tidak menempatkan ALLAH sebagaimana mestinya. Kuasa ALLAH tidak akan bekerja secara maximal  di dalam hidup kita. Selama kita masih berfikir bahwa ALLAH adalah pribadi yang murahan dan bisa diatur seenaknya, selama itu pula kita tidak akan pernah memperoleh jawaban atas doa-doa kita. Hanya ketika kita menempatkan ALLAH sebagaimana mestinya, sebagai seorang RAJA yang harus disembah, dihormati dan dipatuhi. Sebagai seorang TUAN dan PEMILIK atas alam semesta ini, barulah kita akan memperoleh jawaban tepat pada waktu-NYA.

            Saudaraku, ingatlah akan hal ini, ketika kita berdoa, kita sedang menghadap ALLAH, RAJA segala raja dan TUHAN segala tuhan. Perhatikan sikap kita karena TUHAN menyelidiki isi hati manusia, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-NYA. TUHAN tahu segalanya. Ujilah hati kita apakah kita datang dengan cara yang benar kepada-NYA, karena ketika kita datang dengan motivasi yang tidak benar dan masih menyimpan kesalahan orang lain, itu adalah kekejian di mata-NYA. 


MATIUS 5:20-24,
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala
5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.


a.     MEMPERSEMBAHKAN PERSEMBAHAN DI ATAS MEZBAH
            Dalam perjanjian lama kita temukan bahwa seorang raja yang berdaulat dan diakui kekuasaannya, pasti akan mendapatkan banyak upeti dari negara-negara jajahannya atau dari para utusan daerah. Ketika kita mengakui kedaulatan ALLAH atas hidup kita, kita seharusnya mempersembahkan sesuatu yang murni, harum, terbaik, terindah dan termahal kepadanya yaitu hati kita. ALLAH tidak menginginkan persembahan yang dari dunia ini, tapi IA menginginkan dirimu seutuhnya. 

            Kita menjadi wordship leader, pemain music, gembala/pendeta, konselor, pendoa, misionaris, pengusaha, ibu rumah tangga, single, pelajar, etc, semua itu adalah korban bakaran kita dihadapan TUHAN. Sebagai ungkapan pernyataan kasih kita kepada TUHAN. Namun ketika kita melakukannya hanya sebatas rutinitas belaka, terpaksa atau karena manusia, semua itu tidak ada artinya di hadapan TUHAN.  Mengapa? Karena kita melakukannya tidak dengan motivasi yang tidak benar. 

            1 SAMUEL 13, mengisahkan bangsa ISRAEL yang akan berperang dengan bangsa FILISTIN. Dan sudah menjadi ketentuan pada bangsa ISRAEL, sebelum berperang harus membakar korban bakaran kepada ALLAH dan tugas ini hanya bisa dilakukan oleh seorang nabi, nabi SAMUEL. Menjelang hari H, nabi SAMUEL tidak kunjung tiba dan atas desakan rakyat, SAUL mengambih alih tugas ini dan apa akibatnya? SAUL harus kehilangan tahtanya dan masa depan keturunannya. 

Mazmur  51:19, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”

Mazmur 54:8, “Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu, bersyukur sebab nama-Mu baik, ya TUHAN.”

            Ketika kita melakukan pujian dan penyembahan kepada ALLAH, bila tidak disertai dengan hati yang tulus dan murni, semuanya adalah sia-sia. 


b.     TERINGAT AKAN SESUATU
            Bayangkan anda sedang bercengkrama dengan lawan bicara anda, entah itu dengan rekan bisnis, teman atau mungkin dengan pasangan anda di sebuah kafe. Lalu tiba-tiba seorang pelayan datang dan mengulurkan buku menu di hadapan anda serta berbicara panjang lebar mengalihkan perhatian anda. Apakah anda bisa melihat dengan jelas lawan bicara anda? Tentu saja tidak. Anda mungkin hanya bisa melihat dan mendengar secara samar apa yang dia katakan, namun anda tidak akan bisa mendengar dengan jelas.

            Saat kita berdoa, terjalin komunikasi antara kita dengan ALLAH, muka dengan muka tanpa batas, kita menyatakan kerinduan kita kepada ALLAH dan ALLAH menyatakan isi hati-NYA yang terdalam kepada kita. Ketika ada penghalang di antara kita dengan ALLAH, entah itu kekecewaan, sakit hati, hobby, manusia, jabatan, kesombongan, apakah akan terjalin hubungan yang baik  antara kita dengan ALLAH? Saya rasa tidak. Selama penghalang itu masih ada di antara kita dengan TUHAN, hubungan indah dan mesra itu tidak akan pernah terjalin. Karena TUHAN hanya menginginkan hubungan yang ekslusif antara kita dengan diri-NYA tanpa ada pihak lain yang intervensi. 


c.      TINGGALKAN PERSEMBAHAN DAN PERGI BERDAMAI
            Mengapa harus meninggalkan persembahan  dan pergi berdamai? Karena PERCUMA alias SIA-SIA. Sekalipun jungkir balik menahan lapar 40 hari 40 malam, doa kita tidak akan di dengar TUHAN. Karena apa yang kita doakan tidak berasal dari hati yang murni dan kudus. Selain itu, kekecewaan, masalah atau apapun juga yang belum kita selesaikan, akan menjadi celah bagi si iblis untuk masuk dan mengintimidasi kita dengan ketakutan, perasaan bersalah, rasa tidak tenang, emosi yang tidak stabil, serta pemahaman yang salah akan ALLAH.


d.     KEMBALI
            Kata KEMBALI disini menggambarkan satu keadaan atau sikap hati yang telah mengalami pemulihan dari gambar diri yang salah dan pemulihan luka batin. Satu sikap hati yang penuh dengan penerimaan, ketulusan, antusias, optimis, keyakinan, bahwa apa yang kita persembahkan akan berkenan di hati TUHAN. Menjadi dupa yang harum di hadirat-NYA dan menjadi bau-bauan yang menyukakan hati TUHAN.

1 SAMUEL 15:22-23, “….Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim……”

      Adalah penting untuk memperhatikan sikap hati kita saat berdoa dan dan ketika mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN. Karena TUHAN melihat hati dan bukan melihat apa yang telah dilakukan oleh manusia.


With a warm love from GOD! (lyn-22102010)


visit myblog: http://myjourney-hliesye.blogspot.com

Tidak ada komentar: