Blog ini adalah kisah perjalanan kehidupanku bersama TUHAN dan juga kisah-kisah yang dikirimkan oleh rekan-rekanku. Kiranya menjadi berkat bagi semua orang yang membaca blog ini. Dan bagi rekan-rekan yang hendak mengambil artikel terutama yang ada nama-ku, jangan lupa mencantumkan nama penulisnya. TUHAN memberkati !!
Bill Havens, seorang pendayung hebat berkaliber Internasional dalam
masa karantinanya menjelang piala dunia mendayung, menerima berita bahwa
istrinya akan segera melahirkan. Setelah mendengar kabar tersebut ia
memilih untuk pulang & tidak mengikuti kejuaraan
dunia & memutuskan untuk menunggui istrinya yg akan melahirkan.
Belasan tahun kemudian th 1952, Bill menerima telegram dari putranya,
Frank yang pada saat itu baru saja memenangkan medali emas cano 10.000
meter pada Olimpiade di Finlandia.
Telegram itu isinya: "Ayah,
terimakasih karena telah menunggu kelahiran saya. Saya akan pulang
membawa medali emas yg seharusnya ayah menangkan beberapa tahun yg lalu.
Anakmu tersayang, Frank..."
Dari kisah diatas kita bisa belajar
bagaimana kehadiran keluarga berdampak sangat besar bagi anggota
keluarga tersebut. Theodore Roosevelt, mantan Presiden AS berkata:
"Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dgn keluargaku daripada dengan
petinggi-petinggi dunia manapun.
Sahabat... Pada akhirnya kita akan sampai
pada suatu titik dimana pada dasarnya semua yg kita lakukan, semua jerih
lelah kita dalam pekerjaan, semua untuk mereka, keluarga yang kita
cintai. Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa jabatan, prestasi,
& promosi tidaklah seberarti kebersamaan di antara keluarga.
Jadi
relakah saudara menukar kehangatan dalam keluarga anda dgn kesibukan
dalam pekerjaan anda yg mungkin sudah sangat berlebihan? Selalu ada
hasil yg terbaik dari kerja keras yg terbaik pula
Jika anda Marketer :
Keluarga adalah nasabah utama anda.
Jika anda karyawan : Keluarga
adalah boss anda sesungguhnya.
Jika anda investor: investasi yg paling
berharga adalah nilai2 yg anda tanam dlm Keluarga anda. Pastikan
ketika anda diposisi puncak gunung kesuksesan, anda mengibarkan bendera
kemenangan dgn pelukan keluarga disekitar anda, dan bukan dlm keadaan
mereka tertinggal dibawah sambil mereka menangis karena kehilangan anda.
With a wonderfull love from Heaven! (lyn-06072011)
Di sebuah kota
PHILADELPHIA, sepasang suami istri yang sudah tua mencoba masuk ke sebuah lobby
hotel kecil untuk mencari tempat
berteduh dari hujan badai yang tengah melanda daerah itu. Lelaki tua itu mendekati meja
resepsionis dan bertanya, “Apakah masih ada kamar?"
Seorang pria
muda dengan ramah menjawab, “Maaf pak, tidak ada kamar kosong, semuanya sudah
fullbooked karena ada 3 acara besar yang diselenggarakan di kota kami.” Lelaki
tua itu merasa bingung, mau kemana lagi hendak mencari hotel di tengah malam
seperti ini. Ketika hendak membalikkan badan, ia mendengar, pria muda itu
berkata, “Bila bapak dan ibu tidak keberatan, silakan tidur di kamar saya.
Memang tidak terlalu bagus tapi saya rasa cukup nyaman untuk anda
beristirahat,yaa… setidaknya untuk malam ini.”
Suami istri
ini terdiam. Melihat keragu-raguan yang terpancar dari wajah mereka, sang pria
muda berkata, "Pak, jangan kuatir dimana saya akan tidur, saya bisa ikut
menumpang di kamar teman. Yang terpenting adalah anda berdua bisa beristirahat
malam ini dan tidak keluyuran di tengah hujan badai.” Akhirnya suami istri ini
menyetujuinya.
Keesokan
harinya, ketika lelaki tua itu hendak memberikan sejumlah uang, pria muda itu
menolaknya dan berkata bahwa dia melakukan ini tulus dan tanpa pamrih.
Mendengar perkataan sang pemuda, lelaki tua ituberdecak penuh kekaguman. Seraya menepuk-nepuk pundak sang pemuda, dia berkata,
"Sekalipun anda karyawan di tempat ini, sikap anda begitu professional tak
ubahnya seperti seorang manager. Seharusnya anda menjadi manager hotel terbaik
di AMERIKA. Mungkin suatu hari saya akan mendirikan sebuah hotel untuk
anda." Mendengar hal ini, sang pria muda tersenyum dan berterima kasih
atas pujian yang diberikan oleh suami istri itu.
Di sepanjang perjalanan, suami istri ini tak
habis-habisnya membahas sikap pemuda tersebut dan mereka sepakat bahwa sikap
bersahabat dan suka menolong adalah barang langka di zaman seperti ini dan
mereka sangat bersyukur bisa bertemu dengan pemuda ini.
Dua tahun
berlalu dan sang pemuda sudah melupakan peristiwa itu. Hingga suatu hari ia
menerima sepucuk surat yang berisi tiket pulang pergi ke NEW YORK dan meminta
agar pemuda itu mengunjungi pasangan suami istri yang tempo hari ditolong
olehnya. Setengah kegirangan, lelaki tua itu segera mengajaknya ke sudut FIFTH
AVENUE and 34th STREET dan menunjuk
sebuah gedung baru yang megah layaknya istana yang mengkilap kemerahan dan
menjulang ke langit.
"Lihat! Itu adalah
hotel yang aku bangun untukmu dan aku ingin engkau yang mengelolanya.
"Ah..bapak pasti bercanda” jawab pemuda
itu setengah tidak percaya.
“Tidak nak, saya sengaja membangunnya untukmu.
Karena engkau telah menunjukkan sifat yang luhur yang tidak dimiliki oleh
banyak orang. Terimalah pemberian ini, sebagai ucapan terima kasih kami atas
pertolonganmu tempo hari”jawab lelaki tua itu dengan senyum lebar mencerminkan
kepuasannya.
Tahukah anda siapa lelaki tua itu? Namanya adalah WILLIAM WALDORF ASTOR yang mendirikan WALDORF-ASTORIA HOTEL dan
pemuda yang menjadi manager di tempat itu bernama GEORGE C BOLDT. Pelayan muda
ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager
dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.
MORAL: Ketika
kita menolong orang yang lemah dan tidak berdaya, itu artinya kita telah
melakukan tindakan kasih.
Ini adalah sebuah kisah nyata
dari sebuah keluarga miskin yang hanya terdiri dari seorang ibu dan anak laki-laki, suaminya telah lama meninggal dunia.
Suatu hari di musim gugur, anak laki-laki tersebut diterima di sebuah
SMA. Dan berdasarkan ketentuan sekolah, setiap bulan masing-masing anak harus
membawa 30 kq beras untuk kebutuhan makan mereka. Mendengar hal ini, anak
laki-laki itu merasa sedih karena ia tahu bahwa ibunya tidak mungkin bisa
menyediakan beras sebanyak itu, karena tahun ini penyakit rematik ibunya
semakin parah dan menyulitkannya untuk bergerak.
Anak laki-laki itu mendatangi
ibunya dan berkata, “Ma, penyakit rematik mama semakin parah, saya tidak tega
membiarkan mama bekerja seorang diri di sawah. Sedangkan saya enak-enakan pergi
ke sekolah. Saya telah memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu mama
bekerja di sawah.”
Dengan kasih sang ibu mengelus
kepala anaknya dan berkata, "Niat kamu sungguh mulia, Nak. Namun kamu
tetap harus pergi ke sekolah. Jangan kuatir tentang mama, mama pasti bisa
melakukannya. Lakukan apa yang menjadi tugasmu yaitu pergi ke sekolah. Ayo, cepatlah
mendaftar nanti berasnya mama yang antar kesana.”
Sang anak tetap bersikeras tidak
mau mendaftarkan ke sekolah, hingga akhirnya sang mama menampar wajah sang anak
tersebut. Betapa terkejutnya sang anak mendapat perlakuan seperti ini karena
baru kali ini, ia ditampar mamanya. Tanpa bicara sang ibu segera memalingkan
wajahnya agar tidak terlihat sedang meneteskan air mata.
Tak berapa lama, dengan langkah
kaki terpincang-pincang dan nafas tersenggal-senggal, sang mama segera
mendatangi kantin sekolah dan menurunkan sekarung beras dari pundaknya. Sang pengawas
segera memeriksa isi karung tersebut, mengambil segengam beras dan berkata, “Kalian
para wali murid selalu suka mengambil keuntungan, LIHAT! Ini campuran beras dan
gabah. Apa kalian tidak malu memberikan makanan yang seperti ini untuk
anak-anak kalian?” Mendengar ucapan pengawas, sang ibu merasa malu dan minta
maaf berkali-kali.
Bulan berikutnya, sang ibu
membawa sekarung beras kembali dan menyerahkannya kepada pengawas. Dengan alis
yang mengkerut, ia berguman, "Masih dengan beras yang sama.”
Pengawas itu berkata, "Tak
perduli beras apapun yang Ibu berikan, kami tetap akan menerimanya, tapi tolong
dipisahkan antara gabah dan beras. Karena ini menambah pekerjaan kepada kami.
Bila bulan depan masih seperti ini, mohon maaf, saya tidak bisa menerimanya.”
Dengan nada takut-takut, sang ibu
berkata, “Ibu pengawas, semua beras di rumah kami seperti ini, saya harus
bagaimana?”
Dengan ketus pengawas itu
berkata, "Memangnya ibu tidak punya pembantu yang bisa disuruh untuk
menampi beras ini terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada kami!”
Di bulan ke-3, sang ibu kembali
menyerahkan beras yang sama seperti bulan yang lalu. Tentu saja hal ini
menimbulkan kekesalan di hati sang pengawas, dengan ketus sang pengawas
berkata, "Mengapa ibu begitu keras kepala dan tidak mendengar apa yang
saya katakan. Bahwa beras ini sudah harus bersih dan tidak bercampur dengan
gabah dan harus 1 jenis. Sana bawa pulang saja beras ini!”
Seraya berlinangan air mata, sang
ibu berlutut di depan kaki sang pengawas dan berkata, "Maafkan saya, Bu.
Sebenarnya saya mendapatkan beras ini hasil dari mengemis.” Sang ibu duduk di atas lantai, menggulung celana
panjangnya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. "Saya
menderita rematik stadium akhir, jangankan untuk bercocok tanam, untuk berjalan
pun sakit sekali. Tadinya anak saya tidak mau sekolah dan memutuskan untuk
membantu saya di sawah. Namun saya melarangnya dan menyuruhnya untuk tetap
bersekolah. Selama ini, saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada sanak
saudara yang lain, supaya anak saya tidak minder di sekolahnya. Pagi-pagi buta,
saya sudah keluar dengan sebuah karung dan sebatang tongkat berangkat ke
kampung sebelah untuk mengemis, dan baru pulang ke rumah setelah hari mulai
gelap. Setiap hari saya lakukan hal ini demi untuk memenuhi kewajiban membawa
30 kg beras ke sekolah."
Mendengar penuturan sang ibu,
sang pengawas tertegun dan tanpa sadar air matanya mengalir penuh keharuan
mendengar perjuangan sang ibu. Seraya mengangkat sang ibu dari lantai, ia
berkata, "Bu, saya akan laporkan hal ini kepada kepala sekolah, supaya
anak ibu mendapatkan keringanan selama bersekolah di sini.”
Sang ibu buru- buru menolak dan
berkata, "Jangan, kalau anakku tahu bahwa ibunya menjadi pengemis demi agar dia sekolah. Saya takut
harga dirinya akan hancur dan dia menjadi tidak konsentrasi di sekolahnya. Terima
kasih atas perhatian dan kebaikan hati ibu, namun mohon maaf saya tidak bisa
menerimanya. Bu, tolong rahasiakan hal ini dari anak saya.”
Entah dari mana, berita ini
terdengar oleh kepala sekolah dan secara diam-diam membebaskan semua biaya anak
tersebut selama bersekolah. 3 tahun kemudian, anak ini lulus dengan nilai 627
poin dan masuk ke perguruan tinggi QING HUA.
Di hari wisuda SMA, kepala sekolah
mengundang ibu anak ini untuk duduk di tempat utama di samping tempat duduk
pejabat sekolah. Di dalam hatinya, ibu ini merasa aneh karena melihat 3 buah
karung beras yang diletakkan di samping podium.
Dalam kata-kata sambutannya, sang
kepala sekolah menceritakan perjuangan seorang ibu yang dengan rela menjadi
pengemis demi untuk menyekolahkan anaknya sampai tamat dan memberikan applaus
kepada sang ibu untuk naik ke podium menerima penghargaan.
Dan betapa terkejutnya sang anak
melihat bahwa ternyata mamanya lah yang diceritakan oleh kepala sekolah
tersebut. Mata keduanya saling bertatapan dan sang anak akhirnya berlari
berhamburan ke pelukan mamanya. Sebuah kasih sayang dan perjuangan seorang ibu
yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Pepatah mengatakan: "Kasih
ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan."
Inilah kasih seorang mama yang
terus dan terus memberi kepada anaknya tanpa mengharapkan kembali dari sang
anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal
lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya.
Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu
kalimat: "Terimakasih Mama. Aku mencintaimu, aku mengasihimu…selamanya.”
Seorang
warga Perancis yang bernama CHARNEY telah membuat hati NAPOLEON menjadi gusar,
oleh karena itu CHARNEY dimasukkan ke dalam penjara. Perasaan terbuang, ditinggal sendiri,
dilupakan, kerap menghantui CHARNEY selama di dalam penjara.
Dalam kesendirian dan keputusasaannya, CHARNEY mengambil sebuah batu dan menggoreskannya pada
dinding selnya sebuah kata, ”TAK SEORANG PUN PEDULI”.
Suatu hari, sebuah tunas tumbuh di bekas tempat batu yang
diambil oleh CHARNEY. Setiap hari CHARNEY membawa air untuk menyirami tunas
itu. Tunas itu terus tumbuh, makin lama makin membesar hingga mengeluarkan
sebuah kuncup bunga indah berwarna biru.
Di tengah kesendiriannya, CHARNEY
menghayati pertumbuhan tunas itu menjadi sebuah tanaman yang berbunga indah dan
kemudian diatas goresan yang pertama, ia menggores dinding itu lagi dengan sebuah
tulisan, ”ALLAHPEDULI.”
Tulisan itu bukan sekedar tulisan tanpa makna, ALLAH benar-benar
mempunyai berkat baginya. Di sel yang lain, seorang tahanan mempunyai anak
perempuan yang diizinkan mengunjungi para tahanan. Dia juga menengok ke sel
dimana CHARNEY ditempatkan. Perempuan ini mendengar dan melihat apa yang yang
telah diperbuat CHARNEY terhadap tanaman itu.
Dengan segeraberita
menyebar ke seantero negeri dan terdengar di telinga Ratu Josephine yang
terkenal ramah itu. Ratu berkata, ”Seorang yang mengasihi dengan sungguh dan
memelihara sebuah bunga tidak akan menjadi seorang yang jahat.”
Sang Ratu kemudian
membujuk NAPOLEON untuk membebaskan CHARNEYdan CHARNEY pun dibebaskan.
CHARNEYpun tak lupa membawa tanaman itu
pulang ke rumahnya. Tanaman yangmengajarkannya
untuk tetap percaya kepada Allah dan kepedulian-NYA terhadap kaum yang lemah.
Saat
ini, mungkin anda sedang mengalami pergumuan yang berat, mengalami kejatuhan dan
seakan-akan tidak ada yang peduli terhadap anda. Ingatlah akan satu hal, ALLAH
PEDULI. Bahkan ketika seisi dunia tidak peduli kepada anda, ALLAH tetap peduli
kepadamu.
KEPEDULIAN ALLAH
SERINGKALI BERWUJUDSESUATU YANG KITA
ANGGAP REMEH
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia , Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex bebas, judi, obat-obatan.
Dia menikmati semuanya.
Bulan berlalu.
Tahun berlalu.
Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang.
Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.
Menjelang berakhir masa penjara, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali.
Di satu sisi dia mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu di akhir suratnya ia menulis,
"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."
Akhirnya hari pembebasannya tiba.
Dia sangat gelisah.
Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya.
Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya ? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat.... sangat...... gugup.
Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan, kita mesti lihat apa yang akan terjadi"
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.
Keringat dingin mengucur deras.
Akhirnya dia melihat pohon itu....
Air mata menetes di matanya.....
Dia tidak melihat sehelai pita kuning.....
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tidak ada sehelai pun......
Melainkan ada beratus- ratus pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu.
Ooh.......
Seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning........!!!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.
Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut.
Isteri, Pacar dan Sobat yang baik.... apakah anda juga bisa memaafkan bagi orang-orang yang telah berbuat salah kepada anda ?
Isteri si pemabuk itu telah memberikan begitu besar kesetiaannya dan mau memaafkan suaminya.
IF GOD ALWAYS FORGIVES YOU, WILL YOU FORGIVE THE OTHERS ?
Ketika aku berjalan kaki pulang ke
rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya
terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu
kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang
sejumlah $3 dan selembar surat kusut
yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya.
Satu-satunya yang tertera pada amplop
surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa
menemukan petunjuk. Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu
ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan
yang anggun di atas kertas biru embut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di
sudut kirinya.
Tertulis di sana,"Sayangku
Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata
bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengan Michael lagi karena ibunya telah melarangnya. Tapi, meski begitu
ia masih tetap mencintainya. Surat
itu ditanda tangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah. Tetapi tetap saja aku
tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon
bagian penerangan, mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada
amplop itu.
"Operator," kataku pada
bagian penerangan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. Saya sedang berusaha mencari tahu pemilik dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon
atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?"
Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya
tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini.
Kemudian ia berkata, "Kami
mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa
memberitahukannya kepada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan
menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan
apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit.
Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin
berbicara dengan anda."
Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung
telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas,
"Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan
bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu !"
"Apakah anda tahu dimana
keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah
menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita
itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencari tahu dimana
Hannah, berada."
Lalu ia memberiku nama panti jompo
tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita tua itu,
ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih
menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan
terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan.
Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang
tinggal di sebuah panti jompo.
"Semua ini tampaknya
konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot
menemukan pemilik dompet yang hanya berisi $3 dan surat yang ditulis lebih dari
60 tahun yang lalu ?”
Tapi, bagaimanapun aku menelepon
panti jompo tempat Hannah sekarang berada.
Seorang pria yang menerima teleponku
mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu
sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah.
"Ok," kata pria itu agak
bersungut-sungut, "Bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV
di ruang tengah."
Aku mengucapkan terima kasih dan
segera berkendaraan ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat
besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami
naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah.
Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya
bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku
pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya.
Ketika ia melihat amplop surat berwarna
biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas
dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang
terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam.
Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia
16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, ia sangat tampan.
Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya," lanjutnya,
"Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. Bila kau bertemu
dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, dan …..”
Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit
bibir ia berkata, "Katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak
muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "Aku
tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa
menyamai Michael."
Aku berterima kasih pada Hannah dan
mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah.
Ketika melangkah
keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa
membantu anda ?"
Aku sampaikan bahwa Hannah hanya
memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik
dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah
menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku
keluarkan dompet itu, dompet kulit dengan benang merah di sisi-sisinya.
Ketika penjaga itu melihatnya, ia
berseru, "Hei, tunggu dulu! Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu
persis dompet dengan benang merah terang itu. Ia selalu kehilangan dompet itu.
Aku sendiri pernah menemukan dompet itu tiga kali di dalam gedung ini."
"Siapakah Pak Goldstein
itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar.
"Ia adalah penghuni lama gedung
ini. Ia tinggal di lantai delapan. “Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike
Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar” kata
penjaga itu.
Aku berterima kasih pada penjaga itu
dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang
telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke
lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur.
Ketika sampai di lantai delapan,
perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka
membaca di malam hari. Ia adalah pak tua yang menyenangkan.”
Kami menuju ke satu-satunya ruangan
yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat
mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet.
Pak
Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan
berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan
muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda ?"
Aku menyerahkan dompet itu pada Pak
Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku ! Pasti
terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah."
"Ah tak usah," kataku.
"Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat
yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik
dompet ini."
Senyumnya langsung menghilang."Kamu
membaca surat ini ?"
"Bukan hanya membaca, aku kira
aku tahu dimana Hannah sekarang."
Wajahnya tiba-tiba pucat.
"Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang ? Bagaimana kabarnya ? Apakah ia
masih secantik dulu ? Katakan, katakan padaku," ia memohon.
"Ia baik-baik saja, dan masih tetap
secantik seperti saat anda mengenalnya, " kataku lembut.
Lelaki tua itu tersenyum dan meminta,
"Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang ? Aku akan meneleponnya
esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih
mencintainya. Dan saat surat itu datang, hidupku terasa berhenti. Aku belum
pernah menikah, aku selalu mencintainya.”
"Michael," kataku,
"Ayo ikuti aku."
Lalu kami menuruni tangga ke lantai
tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil
menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk
sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya
perlahan.
"Hannah," kata perawat itu
lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu
masuk. "Apakah anda tahu pria ini ?"
Hannah membetulkan kacamatanya,
melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun.
Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik,
"Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku ?"
Hannah gemetar, "Michael! Aku
tak percaya. Michael! Kau…Michaelku !" Michael berjalan perlahan ke arah
Hannah. Mereka lalu berpelukan.
Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan
air mata menitik di wajah kami.
"Lihatlah," kataku.
"Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah."
Sekitar tiga minggu kemudian, di
kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda
berkenan untuk hadir di sebuah pesta pernikahan di hari Minggu mendatang.
Michael dan Hannah akan menikah !"
Dan pernikahan itu adalah pernikahan terindah yang pernah aku saksikan. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk
ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu abu terang dan tampak
cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka
menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi
mereka. Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan
79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan
ini.
Akhir yang sempurna dari sebuah
hubungan cinta yang tak pernah padam selama 69 tahun.