Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 06, 2011

LOVE OUR FAMILY

Sumber: setitik embun inspirasi 
 
Bill Havens, seorang pendayung hebat berkaliber Internasional dalam masa karantinanya menjelang piala dunia mendayung, menerima berita bahwa istrinya akan segera melahirkan. Setelah mendengar kabar tersebut ia memilih untuk pulang & tidak mengikuti kejuaraan dunia & memutuskan untuk menunggui istrinya yg akan melahirkan.   
 
Belasan tahun kemudian th 1952, Bill menerima telegram dari putranya, Frank yang pada saat itu baru saja memenangkan medali emas cano 10.000 meter pada Olimpiade di Finlandia.   
 
Telegram itu isinya: "Ayah, terimakasih karena telah menunggu kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yg seharusnya ayah menangkan beberapa tahun yg lalu. Anakmu tersayang, Frank..."   
 
Dari kisah diatas kita bisa belajar bagaimana kehadiran keluarga berdampak sangat besar bagi anggota keluarga tersebut.   Theodore Roosevelt, mantan Presiden AS berkata: "Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dgn keluargaku daripada dengan petinggi-petinggi dunia manapun.   
 
Sahabat... Pada akhirnya kita akan sampai pada suatu titik dimana pada dasarnya semua yg kita lakukan, semua jerih lelah kita dalam pekerjaan, semua untuk mereka, keluarga yang kita cintai.   Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa jabatan, prestasi, & promosi tidaklah seberarti kebersamaan di antara keluarga. 
 
Jadi relakah saudara menukar kehangatan dalam keluarga anda dgn kesibukan dalam pekerjaan anda yg mungkin sudah sangat berlebihan?   Selalu ada hasil yg terbaik dari kerja keras yg terbaik pula   
 
Jika anda Marketer : Keluarga adalah nasabah utama anda.   
 
Jika anda karyawan : Keluarga adalah boss anda sesungguhnya.
 
Jika anda investor: investasi yg paling berharga adalah nilai2 yg anda tanam dlm Keluarga anda. Pastikan ketika anda diposisi puncak gunung kesuksesan, anda mengibarkan bendera kemenangan dgn pelukan keluarga disekitar anda, dan bukan dlm keadaan mereka tertinggal dibawah sambil mereka menangis karena kehilangan anda.  


With a wonderfull love from Heaven! (lyn-06072011)




Minggu, November 07, 2010

WALDORF-ASTORIA HOTEL

Di sebuah kota PHILADELPHIA, sepasang suami istri yang sudah tua mencoba masuk ke sebuah lobby hotel kecil  untuk mencari tempat berteduh dari hujan badai yang tengah melanda daerah itu. Lelaki tua itu  mendekati meja  resepsionis dan bertanya, “Apakah masih ada kamar?"

Seorang pria muda dengan ramah menjawab, “Maaf pak, tidak ada kamar kosong, semuanya sudah fullbooked karena ada 3 acara besar yang diselenggarakan di kota kami.” Lelaki tua itu merasa bingung, mau kemana lagi hendak mencari hotel di tengah malam seperti ini. Ketika hendak membalikkan badan, ia mendengar, pria muda itu berkata, “Bila bapak dan ibu tidak keberatan, silakan tidur di kamar saya. Memang tidak terlalu bagus tapi saya rasa cukup nyaman untuk anda beristirahat,yaa… setidaknya untuk malam ini.”

Suami istri ini terdiam. Melihat keragu-raguan yang terpancar dari wajah mereka, sang pria muda berkata, "Pak, jangan kuatir dimana saya akan tidur, saya bisa ikut menumpang di kamar teman. Yang terpenting adalah anda berdua bisa beristirahat malam ini dan tidak keluyuran di tengah hujan badai.” Akhirnya suami istri ini menyetujuinya.

Keesokan harinya, ketika lelaki tua itu hendak memberikan sejumlah uang, pria muda itu menolaknya dan berkata bahwa dia melakukan ini tulus dan tanpa pamrih. Mendengar perkataan sang pemuda, lelaki tua itu  berdecak penuh kekaguman. Seraya menepuk-nepuk pundak sang pemuda, dia berkata, "Sekalipun anda karyawan di tempat ini, sikap anda begitu professional tak ubahnya seperti seorang manager. Seharusnya anda menjadi manager hotel terbaik di AMERIKA. Mungkin suatu hari saya akan mendirikan sebuah hotel untuk anda." Mendengar hal ini, sang pria muda tersenyum dan berterima kasih atas pujian yang diberikan oleh suami istri itu. 

Di sepanjang perjalanan, suami istri ini tak habis-habisnya membahas sikap pemuda tersebut dan mereka sepakat bahwa sikap bersahabat dan suka menolong adalah barang langka di zaman seperti ini dan mereka sangat bersyukur bisa bertemu dengan pemuda ini.  

Dua tahun berlalu dan sang pemuda sudah melupakan peristiwa itu. Hingga suatu hari ia menerima sepucuk surat yang berisi tiket pulang pergi ke NEW YORK dan meminta agar pemuda itu mengunjungi pasangan suami istri yang tempo hari ditolong olehnya. Setengah kegirangan, lelaki tua itu segera mengajaknya ke sudut FIFTH AVENUE  and 34th STREET dan menunjuk sebuah gedung baru yang megah layaknya istana yang mengkilap kemerahan dan menjulang ke langit.  

"Lihat! Itu adalah hotel yang aku bangun untukmu dan aku ingin engkau yang mengelolanya.  

"Ah..bapak pasti bercanda” jawab pemuda itu setengah tidak percaya. 

“Tidak nak, saya sengaja membangunnya untukmu. Karena engkau telah menunjukkan sifat yang luhur yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Terimalah pemberian ini, sebagai ucapan terima kasih kami atas pertolonganmu tempo hari”jawab lelaki tua itu dengan senyum lebar mencerminkan kepuasannya. 

Tahukah anda siapa lelaki tua itu? Namanya adalah WILLIAM WALDORF ASTOR yang mendirikan WALDORF-ASTORIA HOTEL dan pemuda yang menjadi manager di tempat itu bernama GEORGE C BOLDT. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.


MORAL: Ketika kita menolong orang yang lemah dan tidak berdaya, itu artinya kita telah melakukan tindakan kasih. 


With a warm love from GOD! (lyn-25102010)

visit http://myjourney-hliesye.blogspot.com

Sabtu, November 06, 2010

3 KARUNG BERAS


Ini adalah sebuah kisah nyata dari sebuah keluarga miskin yang hanya terdiri dari seorang ibu dan anak  laki-laki, suaminya telah lama meninggal dunia.

Suatu hari di musim gugur,  anak laki-laki tersebut diterima di sebuah SMA. Dan berdasarkan ketentuan sekolah, setiap bulan masing-masing anak harus membawa 30 kq beras untuk kebutuhan makan mereka. Mendengar hal ini, anak laki-laki itu merasa sedih karena ia tahu bahwa ibunya tidak mungkin bisa menyediakan beras sebanyak itu, karena tahun ini penyakit rematik ibunya semakin parah dan menyulitkannya untuk bergerak. 

Anak laki-laki itu mendatangi ibunya dan berkata, “Ma, penyakit rematik mama semakin parah, saya tidak tega membiarkan mama bekerja seorang diri di sawah. Sedangkan saya enak-enakan pergi ke sekolah. Saya telah memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah.”

Dengan kasih sang ibu mengelus kepala anaknya dan berkata, "Niat kamu sungguh mulia, Nak. Namun kamu tetap harus pergi ke sekolah. Jangan kuatir tentang mama, mama pasti bisa melakukannya. Lakukan apa yang menjadi tugasmu yaitu pergi ke sekolah. Ayo, cepatlah mendaftar nanti berasnya mama yang antar kesana.” 

Sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, hingga akhirnya sang mama menampar wajah sang anak tersebut. Betapa terkejutnya sang anak mendapat perlakuan seperti ini karena baru kali ini, ia ditampar mamanya. Tanpa bicara sang ibu segera memalingkan wajahnya agar tidak terlihat sedang meneteskan air mata. 

Tak berapa lama, dengan langkah kaki terpincang-pincang dan nafas tersenggal-senggal, sang mama segera mendatangi kantin sekolah dan menurunkan sekarung beras dari pundaknya. Sang pengawas segera memeriksa isi karung tersebut, mengambil segengam beras dan berkata, “Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan, LIHAT! Ini campuran beras dan gabah. Apa kalian tidak malu memberikan makanan yang seperti ini untuk anak-anak kalian?” Mendengar ucapan pengawas, sang ibu merasa malu dan minta maaf berkali-kali. 

Bulan berikutnya, sang ibu membawa sekarung beras kembali dan menyerahkannya kepada pengawas. Dengan alis yang mengkerut, ia berguman, "Masih dengan beras yang sama.” 

Pengawas itu berkata, "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan, kami tetap akan menerimanya, tapi tolong dipisahkan antara gabah dan beras. Karena ini menambah pekerjaan kepada kami. Bila bulan depan masih seperti ini, mohon maaf, saya tidak bisa menerimanya.”

Dengan nada takut-takut, sang ibu berkata, “Ibu pengawas, semua beras di rumah kami seperti ini, saya harus bagaimana?”
Dengan ketus pengawas itu berkata, "Memangnya ibu tidak punya pembantu yang bisa disuruh untuk menampi beras ini terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada kami!”

Di bulan ke-3, sang ibu kembali menyerahkan beras yang sama seperti bulan yang lalu. Tentu saja hal ini menimbulkan kekesalan di hati sang pengawas, dengan ketus sang pengawas berkata, "Mengapa ibu begitu keras kepala dan tidak mendengar apa yang saya katakan. Bahwa beras ini sudah harus bersih dan tidak bercampur dengan gabah dan harus 1 jenis. Sana bawa pulang saja beras ini!” 

Seraya berlinangan air mata, sang ibu berlutut di depan kaki sang pengawas dan berkata, "Maafkan saya, Bu. Sebenarnya saya mendapatkan beras ini hasil dari mengemis.”  Sang ibu duduk di atas lantai, menggulung celana panjangnya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. "Saya menderita rematik stadium akhir, jangankan untuk bercocok tanam, untuk berjalan pun sakit sekali. Tadinya anak saya tidak mau sekolah dan memutuskan untuk membantu saya di sawah. Namun saya melarangnya dan menyuruhnya untuk tetap bersekolah. Selama ini, saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada sanak saudara yang lain, supaya anak saya tidak minder di sekolahnya. Pagi-pagi buta, saya sudah keluar dengan sebuah karung dan sebatang tongkat berangkat ke kampung sebelah untuk mengemis, dan baru pulang ke rumah setelah hari mulai gelap. Setiap hari saya lakukan hal ini demi untuk memenuhi kewajiban membawa 30 kg beras ke sekolah."

Mendengar penuturan sang ibu, sang pengawas tertegun dan tanpa sadar air matanya mengalir penuh keharuan mendengar perjuangan sang ibu. Seraya mengangkat sang ibu dari lantai, ia berkata, "Bu, saya akan laporkan hal ini kepada kepala sekolah, supaya anak ibu mendapatkan keringanan selama bersekolah di sini.” 

Sang ibu buru- buru menolak dan berkata, "Jangan, kalau anakku tahu bahwa ibunya menjadi  pengemis demi agar dia sekolah. Saya takut harga dirinya akan hancur dan dia menjadi tidak konsentrasi di sekolahnya. Terima kasih atas perhatian dan kebaikan hati ibu, namun mohon maaf saya tidak bisa menerimanya. Bu, tolong rahasiakan hal ini dari anak saya.”

Entah dari mana, berita ini terdengar oleh kepala sekolah dan secara diam-diam membebaskan semua biaya anak tersebut selama bersekolah. 3 tahun kemudian, anak ini lulus dengan nilai 627 poin dan masuk ke perguruan tinggi QING HUA. 

Di hari wisuda SMA, kepala sekolah mengundang ibu anak ini untuk duduk di tempat utama di samping tempat duduk pejabat sekolah. Di dalam hatinya, ibu ini merasa aneh karena melihat 3 buah karung beras yang diletakkan di samping podium.

Dalam kata-kata sambutannya, sang kepala sekolah menceritakan perjuangan seorang ibu yang dengan rela menjadi pengemis demi untuk menyekolahkan anaknya sampai tamat dan memberikan applaus kepada sang ibu untuk naik ke podium menerima penghargaan. 

Dan betapa terkejutnya sang anak melihat bahwa ternyata mamanya lah yang diceritakan oleh kepala sekolah tersebut. Mata keduanya saling bertatapan dan sang anak akhirnya berlari berhamburan ke pelukan mamanya. Sebuah kasih sayang dan perjuangan seorang ibu yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. 

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan."

Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tanpa mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. 

Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: "Terimakasih Mama. Aku mencintaimu, aku mengasihimu…selamanya.”


With a warm love from GOD! (lyn-06112010)

visit: http://myjourney-hliesye.blogspot.com



Kamis, Oktober 28, 2010

CHARNEY

Seorang warga Perancis yang bernama CHARNEY telah membuat hati NAPOLEON menjadi gusar, oleh karena itu CHARNEY dimasukkan ke dalam penjara.  Perasaan terbuang, ditinggal sendiri, dilupakan, kerap menghantui CHARNEY selama di dalam penjara. 

Dalam kesendirian dan keputusasaannya, CHARNEY  mengambil sebuah batu dan menggoreskannya pada dinding selnya sebuah kata, ”TAK SEORANG PUN PEDULI”.

Suatu hari, sebuah tunas tumbuh di bekas tempat batu yang diambil oleh CHARNEY. Setiap hari CHARNEY membawa air untuk menyirami tunas itu. Tunas itu terus tumbuh, makin lama makin membesar hingga mengeluarkan sebuah kuncup bunga indah berwarna biru. 

Di tengah kesendiriannya, CHARNEY menghayati pertumbuhan tunas itu menjadi sebuah tanaman yang berbunga indah dan kemudian diatas goresan yang pertama, ia menggores dinding itu lagi dengan sebuah tulisan,  ”ALLAH PEDULI.”

Tulisan itu bukan sekedar tulisan tanpa makna, ALLAH benar-benar mempunyai berkat baginya. Di sel yang lain, seorang tahanan mempunyai anak perempuan yang diizinkan mengunjungi para tahanan. Dia juga menengok ke sel dimana CHARNEY ditempatkan. Perempuan ini mendengar dan melihat apa yang yang telah diperbuat CHARNEY terhadap tanaman itu. 

Dengan segera  berita menyebar ke seantero negeri dan terdengar di telinga Ratu Josephine yang terkenal ramah itu. Ratu berkata, ”Seorang yang mengasihi dengan sungguh dan memelihara sebuah bunga tidak akan menjadi seorang yang jahat.” 

Sang Ratu kemudian membujuk NAPOLEON untuk membebaskan CHARNEY  dan CHARNEY  pun dibebaskan. CHARNEY  pun tak lupa membawa tanaman itu pulang ke rumahnya. Tanaman yang  mengajarkannya untuk tetap percaya kepada Allah dan kepedulian-NYA terhadap kaum yang lemah.

Saat ini, mungkin anda sedang mengalami pergumuan yang berat, mengalami kejatuhan dan seakan-akan tidak ada yang peduli terhadap anda. Ingatlah akan satu hal, ALLAH PEDULI. Bahkan ketika seisi dunia tidak peduli kepada anda, ALLAH tetap peduli kepadamu.


KEPEDULIAN ALLAH SERINGKALI BERWUJUD  SESUATU YANG KITA ANGGAP REMEH
__._,_.___

with a warm love from GOD!(lyn-28102010) 

visit: http://myjourney-hliesye.blogspot.com

Minggu, April 25, 2010

IF GOD ALWAYS FORGIVE YOU

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku...... 

Sumber : true story 

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia , Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya. 

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex bebas, judi, obat-obatan. 

Dia menikmati semuanya. 

Bulan berlalu. 

Tahun berlalu. 

Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. 

Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara. 

Menjelang berakhir masa penjara, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. 

Di satu sisi dia mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu di akhir suratnya ia menulis, 

"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku." 

Akhirnya hari pembebasannya  tiba. 

Dia sangat gelisah. 

Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. 

Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya ? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat.... sangat...... gugup. 

Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan, kita mesti lihat apa yang akan terjadi" 

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. 

Akhirnya dia melihat pohon itu....

Air mata menetes di matanya.....

Dia tidak melihat sehelai pita kuning..... 

Tidak ada sehelai pita kuning.... 

Tidak ada sehelai pun...... 

Melainkan ada beratus- ratus  pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu. 

Ooh....... Seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning........!!! 

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. 

Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut. Isteri, Pacar dan Sobat yang baik.... apakah anda juga bisa memaafkan bagi orang-orang yang telah berbuat salah kepada anda ? 

Isteri si pemabuk itu telah memberikan begitu besar kesetiaannya dan mau memaafkan suaminya. 

IF GOD ALWAYS FORGIVES YOU, WILL YOU FORGIVE  THE OTHERS ?  

With a warm love from GOD ! (lyn - 25042010)

Kamis, Oktober 22, 2009

KISAH CINTA DALAM SEBUAH DOMPET



Sumber : true story

Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah $3  dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya.

Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk. Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru embut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya.

Tertulis di sana,"Sayangku Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengan Michael lagi karena ibunya telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditanda tangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah. Tetapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan, mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu.

"Operator," kataku pada bagian penerangan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. Saya sedang berusaha mencari tahu pemilik dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?"

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini.

Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya kepada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit. 

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." 

Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu !"

"Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencari tahu dimana Hannah, berada."

Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita tua itu, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan.

Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.


"Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi $3 dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu ?”

Tapi, bagaimanapun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada.

Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah.

"Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut, "Bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah."

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendaraan ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya.

Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. 

Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya," lanjutnya, "Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, dan …..”   

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, "Katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "Aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael."

Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. 

Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda ?"


Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku keluarkan dompet itu, dompet kulit dengan benang merah di sisi-sisinya.

Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu! Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu. Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukan dompet itu tiga kali di dalam gedung ini."

"Siapakah Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar.

"Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. “Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar” kata penjaga itu.

Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur.

Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah pak tua yang menyenangkan.”

Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. 

Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda ?"

Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku ! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah."

"Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini."

Senyumnya langsung menghilang."Kamu membaca surat ini ?"

"Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang."

Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang ? Bagaimana kabarnya ? Apakah ia masih secantik dulu ? Katakan, katakan padaku," ia memohon.

"Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya, " kataku lembut.

Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang ? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang, hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya.”

"Michael," kataku, "Ayo ikuti aku."

Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV.  Perawat mendekatinya perlahan.

"Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini ?"

Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun.

Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku ?"

Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau…Michaelku !" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan.

Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami.

"Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah."

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta pernikahan di hari Minggu mendatang. Michael dan Hannah akan menikah !"

Dan pernikahan itu adalah pernikahan terindah yang pernah aku saksikan. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini.

Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 69 tahun.
 
TRUE LOVE NEVER DIE